Segelintir Potret Kehidupan di Kota Megapolutan

Image

Seperti biasa adzan subuh menjadi alarm untukku bangun pada pagi ini dan pagi-pagi lainnya. Tak pernah ku dengar ayam berkok ataupun kicau burung di pagi hari.

sambil menikmati sarapan yang ibu buatkan, aku menyetel acara berita pagi siaran lokal. Dan lagi-lagi berita yang tak aneh adalah bahwa sungai citarum meluap dan daerah dayeuhkolot dan baleendah terendam lagi. Sungguh miris, sampai kapan mereka akan hidup di tengah banjir.

Lalu ku panaskan si kuda besi yang selalu menemani kemanapun aku pergi. Kali ini aku hendak pergi ke kampus untuk mencari sebongkah inspirasi menakjubkan untuk mengisi lembaran kisah sedih catatan skipsiku -,-“

Saat di perjalanan, sudah tidak aneh jika terjadi penumpukan volume kendaraan yang menjadikan kota ini sebagai kota MEGAPOLUTAN. Sambil mengendarai motor, tak sengaja disebelahku ada seorang lelaki paruh baya yang mengutak-atik handphone nya sambil asik mengendarai motor (ya tuhann berilah hamba kekuatan untuk tidak menyenggol dan menyerempetnya -.-“)

Sampailah di stop’an lampu merah pertama yaitu di perempatan kopo. Puluhan bahkan ratusan motor  yang menunggu perubahan warna lampu menjadi hijau seakan berubah jadi segerombolan pasukan tentara Indonesia yang hendak menyerbu sekutu.

Di tengah perjalanan, ternyata jalanan yang kulewati tak semulus “paha personil cherybelle”, banyak lubang di mana-mana. Mungkin pemerintah lupa memberinya odol atau pemerintah setempat ingin warganya menyikapi hal tersebut dengan kreatif ,misalnya warga menjadikan lubang jalanan sebagai kolam pancing atau bahkan kolam renang.

Sesampainya di perempatan pasteur, aku kembali terjebak dengan lampu  merah. Hal yang membuatku kesal adalah menunggu selama 240 detik lampu merah dan hanya menghasilkan untuk 50 detik lampu hijau.  Namun, hal yang kusukai adalah melihat pertunjukan doger monyet yang bisa menaiki egrang sepanjang 1 meter .it’s so awesome .haha .. di samping itu, ada juga anak kecil yang menjual tampang polos dan penuh belas kasihan.  Tiba-tiba dia menghapiriku dan berkata “kaa, sedekahnya kaa.. “ aku segera merogoh celana jeansku yang mulai sempit akibat berat badan yang mungkin naik lagi (oke kita skip). Kemudian aku menemukan selembar uang receh dan sebelum memberikannya aku bertanya “dik, kenapa kau tidak sekolah?” lalu dia menjawab “aku tak butuh sekolah, sekolah tak memberikanku uang. Aku lebih butuh uang dari pada ilmu” kemudian ia mengambil uang di tanganku dan bergegas pergi. Ingin rasanya aku nasehati dia dengan ceramah ala mamah dedeh namun apa daya lampu stopan telah berwarna hijau.

Sesampainya di kampus tak banyak yang kulakukan, aku segera masuk ke gedung perpustakaan dan mencari literatur yang aku butuhkan.

Tak terasa, matahari telah berada tepat di atas genteng gedung. Namun lembaran skripsiku masih saja kosong, aku belum juga mendapatkan inspirasi namun batrai laptop telah habis jadi kuputuskan untuk pergi meninggalkan kampus.

Sebelum pulang, aku mampir ke warung kecil untuk membeli minum. Disana kulihat pemuda mengenakan seragam putih-biru dongker. Mereka secara sembunyi-sembunyi menghisap rokok. Tadinya aku berniat menegur mereka. Tetapi setelah aku sadari, jumlah mereka lumayan banyak dan aku takut di keroyok, jadi aku gagal menegur mereka😦

Lalu aku kembali menarik gas motorku. Di perjalanan pulang, ada lagi hal yang mencolok mataku. Aku melihat segerombolan pemuda dengan rambut mirip “kemoceng” yang berdiri tegak keatas dengan warna-warna lucu tapi mengerikan. Semboyan hidup mereka adalah “kami anak punk anti kemapanan” ,semboyan paling aneh dan paling malas untuku dengar. disela-sela kemacetan aku berusaha melihat dan memperhatikan sekeliling. Ternyata banyak sekali coretan bertuliskan XTC atas nama bla.bla.bla atau Brigez, atau rackermoon, dll .. Heran, mengapa mereka tidak menuliskannya di jidat mereka sendiri agar semua orang tau betapa eksisnya mereka .ckckckc

Niat untuk pulang langsung ke rumah seketika hilang setelah melihat baliho film baru, kubelokan stir motorku dan memarkirkannya dengan manis di sebelah vespa super antik entah milik siapa. Sebelum masuk ke mall aku sempatkan untuk membeli es krim untuk menemaniku. Setelah itu aku masuk ke mall dan segera menuju bioskop. Tapi menyebalkan, tiket yang hendak ku beli hanya menyisakan tempat duduk di bangku terdepan dan akhirnya aku gagal nonton karena malas untuk menonton di jam berikutnya.

Sambil memakan es krim bertabur coklat, aku duduk di sofa 21 dan memerhatikan sekeliling. Aku melihat ada sepasang suami istri yang membawa anaknya yang berusia kurang lebih 4 tahun. Suami istri itu sibuk dengan gadget nya masing-masing, begitu pula si anak yang sibuk main angry bird di tab yang di berikan orang tuanya. Lalu apa artinya kebersamaan jika raga mereka bersama tapi hati dan pikiran fokus di dunia maya -.-“

Kupalingkan penglihatanku dan melihat yang lainnya, disana kulihat segerombolan gadis remaja yang mengenakan pakaian dengan paha dan dada yang bisa di konsumsi gratis oleh publik. Dengan bangganya dan tanpa rasa risih ataupun malu mereka terlihat percaya diri dengan apa yang mereka kenakan (masyaallah kiamat memang semakin dekat). Setelah itu aku melihat ke arah samping tempat aku duduk, kulihat sepesang kekasih yang sedang bermesraan (ini hal termalas yang aku lihat, melihat mereka membuatku envy .haha)

Tak terasa siang telah berganti malam. Setelah itu aku bergegas menuju parkiran. Hari sudah gelap, aku mengemudikan motorku perlahan sambil mengitari kota bandung. Di sudut-sudut sempit dan remang-remang aku melihat beberapa wanita cantik dan lagi-lagi mengenakan busana super minim dilengkapi make-up ala penyanyi dangdut nyai ronggeng. Mereka berdiri centil di pinggir jalan sambil memamerkan tubuhnya (masyaallah mengerikan) .. Tak cukup itu saja, bahkan di jam-jam tertentu bukan suara jangktik yang menghiasi indahnya malam, melainkan suara knalpot super cetar yang meraung-raung yang menghancurkan kebisuan malam kota bandung. Mereka berkumpul untuk drag race secara illegal ..

Itulah beberapa potret kehidupan realita di kota metropolitan yang merangkap juga sebagai kota megapolutan. Kemajuan jaman memang telah mengubah manusia baik dari tingkah laku maupun pola pikirnya. Namun banyak hal yang bisa di jadikan pelajaran hidup, tergantung kita menyikapi dan melihat segala sesuatunya dari sudut pandang seperti apa.

2 thoughts on “Segelintir Potret Kehidupan di Kota Megapolutan

    • mangga kang, tapi punten tolong di cantumin link blog saya atau copyright nya yaa .hehehe nuhun😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s